Jumat, 11 Maret 2011

Kekalahan Timnas Versi TV



Sebenarnya alamiah, ada kekalahan dan kemanangan dalam setip kompetisi. Namun selalu ada alasan di balik setiap kekalahan atau kemenangan itu. Alasanpun beragam mulai yang empiris hingga yang mistis. Kekalahan timnas antara lain, terjadi teror dari pemain ke 13 Malaysia, sinar laser. Ada juga ungkapan cukup mistis dari Menpora Andi Malaranggeng, sebelum pertandingan, gawang yang dijaga Markus Maulana pernah ditaburi sesuatu sehingga menimbulkan gatal-gatal dan bengkak di sebagian kaki timnas. Ketua PSSI, Nurdin Halid mengungkapkan, sejak mendarat di Malaysia, timnas mendapat teror. Salah satunya, kelambanan bis yang akan digunakan menuju tempat latihan di Kuala Lumpur.
Yang menarik, versi kekalahan menurut televisi nasional. Meski tentu saja, layaknya berita media masa, mereka tidak mengatakannya sendiri. Tetapi dari setiap narasumber yang diwawancari yang mendukung argumen dasar yang dijadikan sandaran para pengelola news.
Salah satunya TVone. TV yang sangat gencar memberitakan kemenangan timnas di Fiala AFF 2010 ini, membuat kambing hitam kekalahan itu seolah-olah sinar laser satu-satunya.
Dalam wawancara dengan Abimanyu Wadjoemidjajat pengamat telematika, TVone menegaskan, sinar laser sangat mempengaruhi konsentrasi permainan di lapangan. Kata Abimanyu, tingkat kekuatan sinar laser tergantung warnanya. Yakni merah, kuning, hijau, biru, violet dan ungu. Semakin ungu sinar semakin kuat bahkan membahayakan serta jaraknyapun semakin jauh. Sementara sinar laser hijau akan mengaburkan mata yang dikenainya. Dan ini yang sering digunakan oleh kepolisian Amerika Serikat untuk mengaburkan mata penjahat. Di kalangan sepak bola, pengggunaan sinar laser untuk mengaburkan mata pemain sudah sering terjadi. Bukan saja di tingkat Asia, namun Eropa dan tingkat dunia.
Kembali pada argument kekalahan timnas versi TV. TVone mungkin yang jarang sekali menyiarkan analisis, salah satu kekalahan akibat menurunya konsentrasi pemain timnas akibat sebelum pertandingan dibawa ke kiri kekanan. Misalnya, sebelum keberangkatan, sempat menghadiri undangan makan di kediaman Abu Rizal Bakri, konglomerat yang ketua Umum Partai Golkar sekaligus pemilik grup media nasional termasuk TVone di dalamnya. Dalam kesempatan itu, TVone nampaknya mendapat banyak kesempatan mewawancarai para pemain timnas, meskipun mereka sedang menikmati hidangan dan sedikit terlihat kurang nyaman.
Di lain pihak televisi lain yang menyiarkan tayangan langsung pertandingan tak terlalu gencar memberitakan. RCTI misalnya, seperti tertinggal dalam pemberitaan pernak-pernik timnas di luar pertandingan. Beritanya biasa-biasa saja, seputar antrean pembeli tiket. Paling untung RCTI dan grupnya Global TV, di running news memberitakan, di Malaysia pembelian tiket dan pemberitaan media massa Malaysia, biasa-biasa saja, tak segencar di Indonesia.
Dalam invotainment di RCTI, salah satu kekalahan timnas disebutkan, itu karena terlalu direcoki, dengan judul tanda tanya. Entah maksud direcoki di sini apa? Apakah sama artinya dengan terlalu banyak diwawancarai atau terlalu banyak dikomentari para pengamat? Sementara Trans7 melah lebih jauh. Kekurang profesionalan PSSI memberi sumbangan terhadap kekalahan timnas.
Tentu saja semua pihak memiliki anaslisis sendiri-sendiri, termasuk saya dan juga para penonton di seluruh tanah air. Bagi saya, kekalahan timnas karena Sarah Azhari tidak sempat menggoda pelatih Timnas Malaysia Raza Goda… eh Raja Gopal. (bercanda). Ke depan, tim ke 13 seperti ini perlu dilibatkan di luar lapangan secara serius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar